Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

sebut saja alkisah...

Dikisahkan kau dan aku. Bersama. Berirama. Tanpa murka. Dan dikisahkan pula kau dan bukan aku. Membagi cita. Tanpa reda. Bukan tak sama, melainkan saling menjaga. Bukannya sekarang zamannya begitu? Iya, bersama tak selalu merasa. Berirama pun bukan berarti senada. Rasa bisa terjadi kapan saja, dalam bentuk apa saja, dan dalam tempo yang tak bisa diperintah sekenanya. Tiba-tiba kau suka siapa sangka? Tiba-tiba kau mencela apa harus berdusta? Sedang tak sama, siapa sangka bertahan lama? Perasa tak dapat di logika.

Jadi?

Ini bukan apa-apa, bukan tentang siapa bukan perihal mengapa. Lantas? Aku bahkan tak tahu yang ada tiba-tiba tanpa sapa. Kau jatuh hati? Aku bahkan tak tahu yang ada tiba-tiba tanpa kata. Jadi? Aku bahkan tak tahu yang ada tiba-tiba tanpa rasa.

Ini Apa?

Meraba? Merasa?  apa ini iya atau tidak? apa ini benar atau salah? apa ini baik atau buruk? apa ini putih atau hitam? Kelabu Menerka kau tau apa? Ini luka mesti tak menganga tanpa jahitan atau kasa.

Perdebatan Purnama

Kau tau apa yang lebih indah dibanding purnama? Memangnya apa? Aku tak akan berkata bahwa itu kamu, karena tentunya beda. Kamu adalah kamu, dan purnama itu bukan dirimu. Lantas apa? Kau mau mencoba merayuku? Menggombaliku dengan kata-kata yang kerap membuat telingaku sendiri muak? Bukan, sudahku bilang bahwa itu beda, beda kan nggak sama. Lantas apa? Jangan membuatku penasaran, rasa-rasanya aku seperti orang bloon yang menantikan sebuah jawaban yang tak lebih penting dibanding mencabuti bulu ayam. Kau kata beda, jika kebanyakan mengata purnama indah dan kau kata aku beda, apa aku berarti kebalikannya? Tak indah maksudmu gitu? Kau ini ya, nggak sabaran sama sekali. Tau nggak kalau itu yang justru membuatku kerap bertahan lama disini? Maumu apa sih sebenarnya? Pernyataan olehmu yang kutanyakan saja belum kau jawab, dan kau mau menanya lagi? Sengaja membuatku begini? Seolah aku ini bodohꟷyah memang ku akui aku tak sepandai dirimuꟷ tak bisa menjawab pertanyaan konyol yang mungkin beruju...

Sila

sila menerka lihat yang kasat mata dan engkau bebas mengata jangan gusar delusi tak perlu dihajar alamiah nan sangatlah wajar tak perlu mengerang meski kerap bertolak belakang berbicara yang tak ada membuatmu benci logika sila menerka yang ada jangan mengada-ada

PELIK

Ramadhan pelik tak pernah lengang dahaga meski rahmat kerap mengguyur kota.  Beragam kecamuk meluap fisik menggertak batin mengeram tapi.....  Bumi masih saja bungkam.  Ribuan upaya dikerahkan jutaan materi dikorbankan tetap saja tak merubah keadaan.  Bukan,  bukan,  bukan Bumi yang terus membungkam.  Mengapa ego selalu terdepan? Mengapa sulit menyadarkan?  Toleransi tak hanya lisan menghargai tak hanya dengan perasaan,  ini tentang tindakan.  Bukan hanya Ramadhan pelik; tiap masa. 

Terkunci dalam Diam

Bungkam melekat bak perekat Per kata tak lagi mampu terucap Sedu yang kerap bertegur sapa Memprakarsa hingga diam membahana. Bukan dusta bukan arogan Bukan pula mendongak lantas mengabaikan Diri merindu akan perbincangan Namun rasa menolak untuk mengiyakan. Sirna sudah jalinan yang terikat Menyesatkan tanpa kejelasan Membunuh dengan amat menjengkelkan Hingga rangkak ku tak mampu kukayuhkan. Diam; Senyap. Senjata paling mematikan Paling ampuh yang tak terkalahkan Didamba saat gemuruh berdatangan Tapi, maaf Beri aku jalan pulang.

INSPIRASI

Aku tau Kisahku tak seindah kisahmu Pengalamanku tak sebanyak sepertimu Terlebih parasku dan segala apa yang ada pada diriku, tak lebih darimu untuk saat ini; tak tau esok, lusa, bahkan beberapa tahun lagi. Sepenggal diriku pernah menyesali Mengapa aku terlahir seperti ini Tak seperti dirimu yang menang banyak dalam segala hal di muka bumi. Namun aku berhasil menepis Ego memang tak pantas untuk jadi acuan Tak pantas untuk jadi bahan rujukan. Sedikit realistis untuk berfikir lebih kritis Terimakasih telah datang walau tanpa kau sadari Inspirasi.

𝚁𝚒𝚗𝚍𝚞, 𝙻𝚊𝚐𝚒

Jika rindu tak tuai akan temu Bolehkan aku mengadu? Mungkin hanya menyiratkan salam dalam pilu Tanpa menanti kabar yang sering kutunggu. Rinduku selalu berakhir dalam sembilu Tiada ruang yang rela untuk menyatu Menghamburkan jutaan kasih tak berdalih Menitikkan sedikit luka tanpa belas kasih. Rinduku yang tak tentu, Rinduku yang salah akan waktu, Dan rindu yang selalu menyiksa kalbu.

ᴀᴘʀᴇꜱɪᴀꜱɪ

Apresiasi bukan sekedar tepukan gemuruh Sorak riuh Sebutan nama yang hampir ricuh Menjalar menyebar luas Terpublikasi Lalu tenar sana sini. Cukup menghargai Menilai tanpa melukai Menyaran tanpa menyakitkan. Bersia-sia apresiasi yang menyayat hati Tak mengangkat malah menjerat Menjatuhkan dengan hebat Sampai aku melihat kau tertawa puas.

𝕊𝕦𝕕𝕦𝕥 ℝ𝕚𝕟𝕕𝕦

Petang sudah ruang yang sempat kutunggu Menyirnakan jutaan rasa belenggu Mematahkan setiap rasa ingin temu.  Secuil angan yang sempat terngiang Pun seteguk harap yang kerap hilang Berulang mengusik jiwa dan pikir yang berusaha tenang Sayang, apa kau demikian?  Sabda mencinta telah terucap Meski usai dengan kalap Kendati malam berperang dengan siang  Atau senja yang memaksa ketika fajar,  Rinduku tetap Tak akan alih.  Mendambamu adalah rutinitas Pun mengelukanmu tak akan kenal batas Tautan kata demi kata kerap menjadi spontanitas Menggambarkan dirimu yang tak kunjung tuntas.  Entitas ku teguh menanti Nun pijak ku masih disini,  Sudut rindu. 

Percaya

Mempercayai memang tak mudah Pun dengan membuat yang lain percaya. Jangan mudah menghilang dengan sosok yang datang Jangan pura melupa dengan sosok yang telah ada Karena mencari yang abadi sejatinya tak bisa Ada masa dimana semua akan binasa. Binasa, Bukan hanya perihal kembali kepada Sang Kuasa Namun teruntuk mereka yang telah dipercaya malah berbalas dusta Mereka yang berjanji tanpa memberi bukti Dan mereka yang dulu telah dibela tapi membalas luka. Percaya bukan sekedar ungkap kata Lantas mendelik dengan segala kecamuk prasangka Mengutarakan dengan mengada-ngada Terlebih sampai mengadu domba. Walau berulang maaf telah tersulamkan Tetap saja percaya tak akan terkembalikan. Percaya itu sulit Gausah diperumit Buang saja olah pikir yang sempit Serta prasangka yang selalu menghimpit.

AMBISI

Bukannya aku tak pemerhati, Kau saja yang terlalu berambisi. Ketika kau bertanya perihal mimpi Sama sekali aku tak pernah menghalangi Bukan tak mendukung lalu menikung Bukan pula membiarkan sampai terabaikan Aku hanya ingin melihat sejauh mana kau mampu bertahan. Setiap insan punya privasi sendiri Punya akan jati diri Dan paham akan putusan pribadi. Tak harus dipublikasi untuk dipuji Apalagi untuk memperoleh sosok pemerhati. Inilah ruang untuk dirimu berdiskusi, Damaikan pikiran dengan hati Sinkronkan antara mimpi dan ambisi. Publik tak harus mengerti Seseorang disampingmu pun tak diwajibkan untuk memahami Jangan tuntut semua berpihak pada argumentasimu sendiri.

KAU

Kau sangat indah untuk di jumpa Sangat indah untuk disapa Pun sangat indah untuk disuka. Tak adil jika kau peroleh perilaku dusta. Selalu disiksa, Dengan rindu yang tak kunjung jumpa Dengan kasih yang amat merana Dengan pilu yang teraniaya Dan harap yang berakhir sengsara. Mencari memang tak selalu berseri Menanti pun tak seperti menagih janji, Unjuk gigi lalu untung tanpa mau rugi. Jika berkenan mengikat suci Kalahkan ego yang menguasi diri Tak perlu promosi kesana kemari Cukup perbaiki diri Kalau serasi pasti tak akan lari.

N A M P A K

Nampak bahagia yaa... Setiap candu yang bertumpu Setiap rindu yang bertemu Dan setiap angan yang perlahan menjadi kenang. Menyenangkan bukan? hehe

TERBATAS

Dengan segala keterbatasan Diri ini mengerti bila hanya dijadikan pelampiasan. Bukan hari senin yang sok ngangenin, bukan pula selasa yang mengaku diri ini luar biasa. Jika maju akan menyakitkan dan mundur akan menyebalkan,  maka dengan tegas memutuskan untuk diam dalam kegentingan. Genting karena hati yang memaksa keluar dari dinding perbatasan. Bukan untuk menyatakan, mungkin hanya butuh sedikit perhatian. Sekian, Ini bukan pernyataan. Bukan fakta yang harus dibenarkan. Karena ini hanya secuil curhatan.

Lelah Rehat Istirahat

Lelah, rehat, istirahat. Batin menyiksa perlahan tanpa permulaan Diriku pun tak sadar bahwa hati ini telah terhimpit pada perbatasan Pantas saja, semakin hari sesak memenuhi pikiran Ternyata inilah penyebab kejadian. Lelah memikirkan hatinya yang tak pernah lengah Tak pernah mengalah untuk memperbolehkan diriku menyapa dengan sumringah Padahal diri ini tak mengharap balas yang nantinya akan membuat terbang bebas Tengoklah keberadaanku saja, aku sudah puas. Mungkin ini waktu yang tepat untuk rehat Rehat dari segala perbincangan hati yang amat pelik untuk dilihat Rehat dari jutaan perih yang tak sadar telah menyayat Biarkan batin ini lega sejenak Tanpa diusik oleh bayanganmu yang somplak. Pikiran dan batin harus sinkron untuk istirahat Tak usah pedulikan omongan rakyat yang mencacat Dirimu juga butuh damai walau sesaat.