Perdebatan Purnama
Kau tau apa yang lebih indah dibanding purnama? Memangnya apa? Aku tak akan berkata bahwa itu kamu, karena tentunya beda. Kamu adalah kamu, dan purnama itu bukan dirimu. Lantas apa? Kau mau mencoba merayuku? Menggombaliku dengan kata-kata yang kerap membuat telingaku sendiri muak? Bukan, sudahku bilang bahwa itu beda, beda kan nggak sama. Lantas apa? Jangan membuatku penasaran, rasa-rasanya aku seperti orang bloon yang menantikan sebuah jawaban yang tak lebih penting dibanding mencabuti bulu ayam. Kau kata beda, jika kebanyakan mengata purnama indah dan kau kata aku beda, apa aku berarti kebalikannya? Tak indah maksudmu gitu? Kau ini ya, nggak sabaran sama sekali. Tau nggak kalau itu yang justru membuatku kerap bertahan lama disini? Maumu apa sih sebenarnya? Pernyataan olehmu yang kutanyakan saja belum kau jawab, dan kau mau menanya lagi? Sengaja membuatku begini? Seolah aku ini bodohꟷyah memang ku akui aku tak sepandai dirimuꟷ tak bisa menjawab pertanyaan konyol yang mungkin berujung lelucon itu? arghh. Sabar, sabar, tolong sabarlah sebentar. Kenapa malah kamu yang naik pitam? Ini kan cuma perbincangan enteng yang tak seberat politik atau diskusi pelajaran? Aku hanya bertanya, kalau kamu enggan menjawab silakan, aku sama sekali tak memaksa. Atau kalau kamu sudah mentok untuk tak mau menjawab silakan saja, jangan kau anggap serius begini. Oke, maafkan. Aku hanya merasa bodoh saja tak bisa menebak apa yang akan kau katakan. Jika kau tak pernah mematahkan harapan, lantas kenapa kau bandingkan aku dengan purnamaꟷyang memang kata orang wanita selalu dinisbatkan padanyaꟷ dan mengata bahwa aku tak sama, beda. Begini maksudku, aku hanya tak setuju jika wanita secantik dirimu disamakan dengan purnama. Aku juga tak akan mengata bahwa kau adalah lebih atau kurang dari purnama. Jadi, yang lebih indah dari purnama ini adalah semesta. Semesta yang didalamnya sengaja dihuni oleh dirimu. Pada mulanya memang ini hampir sama, tapi aku putuskan ini beda. Semesta luar biasa, aku bisa berjumpa denganmu, mengenalmu, bahkan sekarang aku dan kamulah pemiliknya. Semesta selalu membuat kejutan istimewa agar aku dan kamu berasa memilikinya. Dan tentunya kamu sama sekali tak bodoh, ini hanya persepsiku. Aku sudah tak tahan sebenarnya ingin mengatakan ini. Bukan permasalahan purnama dan dirimu. Ini hanya permisalan, seperti katamu tadi “yang memang kata orang wanita selalu dinisbatkan padanya” dan entah kenapa aku berasumsi bukan seperti itu. Dan untuk pernyataanku yang menjadi persoalanmu hingga kau naik pitam, kau tak sadar juga? Sudah aku kata kan, bahwa dirimu sama sekali tak bodoh. Dengan beberapa lontaran katamu tadi justru kau sangat mengagumkan. Kau selalu antusias saat aku membagi pelbagai kisah rancu, pelbagai pendapat dan teori yang memang bukan konsumsimu. Dan harusnya kau tahu, itulah yang kerap membuatku menahan diri untuk terus berlama denganmu. Kau candu, iya aku tak sampai hati mengalihkan segala yang berkaitan denganmu. Kau jauh dari kata bodoh, dan aku harus menggaris bawahi memang kau tak sepandai diriku, aku mohon jangan marah. Aku sangat senang jika pada akhirnya semesta selalu memihak kita, membiarkan kita seolah yang memilikinya meski kebenaran kitalah yang dimiliki semesta. Iya, aku sengaja mengata kita karena sekarang hanya ada aku dan kamu. Semesta yang baik.
Komentar
Posting Komentar