Bungkam melekat bak perekat Per kata tak lagi mampu terucap Sedu yang kerap bertegur sapa Memprakarsa hingga diam membahana. Bukan dusta bukan arogan Bukan pula mendongak lantas mengabaikan Diri merindu akan perbincangan Namun rasa menolak untuk mengiyakan. Sirna sudah jalinan yang terikat Menyesatkan tanpa kejelasan Membunuh dengan amat menjengkelkan Hingga rangkak ku tak mampu kukayuhkan. Diam; Senyap. Senjata paling mematikan Paling ampuh yang tak terkalahkan Didamba saat gemuruh berdatangan Tapi, maaf Beri aku jalan pulang.
sila menerka lihat yang kasat mata dan engkau bebas mengata jangan gusar delusi tak perlu dihajar alamiah nan sangatlah wajar tak perlu mengerang meski kerap bertolak belakang berbicara yang tak ada membuatmu benci logika sila menerka yang ada jangan mengada-ada
Ramadhan pelik tak pernah lengang dahaga meski rahmat kerap mengguyur kota. Beragam kecamuk meluap fisik menggertak batin mengeram tapi..... Bumi masih saja bungkam. Ribuan upaya dikerahkan jutaan materi dikorbankan tetap saja tak merubah keadaan. Bukan, bukan, bukan Bumi yang terus membungkam. Mengapa ego selalu terdepan? Mengapa sulit menyadarkan? Toleransi tak hanya lisan menghargai tak hanya dengan perasaan, ini tentang tindakan. Bukan hanya Ramadhan pelik; tiap masa.
Komentar
Posting Komentar