Bungkam melekat bak perekat Per kata tak lagi mampu terucap Sedu yang kerap bertegur sapa Memprakarsa hingga diam membahana. Bukan dusta bukan arogan Bukan pula mendongak lantas mengabaikan Diri merindu akan perbincangan Namun rasa menolak untuk mengiyakan. Sirna sudah jalinan yang terikat Menyesatkan tanpa kejelasan Membunuh dengan amat menjengkelkan Hingga rangkak ku tak mampu kukayuhkan. Diam; Senyap. Senjata paling mematikan Paling ampuh yang tak terkalahkan Didamba saat gemuruh berdatangan Tapi, maaf Beri aku jalan pulang.
Dikisahkan kau dan aku. Bersama. Berirama. Tanpa murka.
Dan dikisahkan pula kau dan bukan aku. Membagi cita. Tanpa reda. Bukan tak sama, melainkan saling menjaga.
Bukannya sekarang zamannya begitu?
Iya, bersama tak selalu merasa. Berirama pun bukan berarti senada. Rasa bisa terjadi kapan saja, dalam bentuk apa saja, dan dalam tempo yang tak bisa diperintah sekenanya. Tiba-tiba kau suka siapa sangka? Tiba-tiba kau mencela apa harus berdusta? Sedang tak sama, siapa sangka bertahan lama? Perasa tak dapat di logika.
Mempercayai memang tak mudah Pun dengan membuat yang lain percaya. Jangan mudah menghilang dengan sosok yang datang Jangan pura melupa dengan sosok yang telah ada Karena mencari yang abadi sejatinya tak bisa Ada masa dimana semua akan binasa. Binasa, Bukan hanya perihal kembali kepada Sang Kuasa Namun teruntuk mereka yang telah dipercaya malah berbalas dusta Mereka yang berjanji tanpa memberi bukti Dan mereka yang dulu telah dibela tapi membalas luka. Percaya bukan sekedar ungkap kata Lantas mendelik dengan segala kecamuk prasangka Mengutarakan dengan mengada-ngada Terlebih sampai mengadu domba. Walau berulang maaf telah tersulamkan Tetap saja percaya tak akan terkembalikan. Percaya itu sulit Gausah diperumit Buang saja olah pikir yang sempit Serta prasangka yang selalu menghimpit.
Komentar
Posting Komentar