Bungkam melekat bak perekat Per kata tak lagi mampu terucap Sedu yang kerap bertegur sapa Memprakarsa hingga diam membahana. Bukan dusta bukan arogan Bukan pula mendongak lantas mengabaikan Diri merindu akan perbincangan Namun rasa menolak untuk mengiyakan. Sirna sudah jalinan yang terikat Menyesatkan tanpa kejelasan Membunuh dengan amat menjengkelkan Hingga rangkak ku tak mampu kukayuhkan. Diam; Senyap. Senjata paling mematikan Paling ampuh yang tak terkalahkan Didamba saat gemuruh berdatangan Tapi, maaf Beri aku jalan pulang.
Jika rindu tak tuai akan temu Bolehkan aku mengadu? Mungkin hanya menyiratkan salam dalam pilu Tanpa menanti kabar yang sering kutunggu. Rinduku selalu berakhir dalam sembilu Tiada ruang yang rela untuk menyatu Menghamburkan jutaan kasih tak berdalih Menitikkan sedikit luka tanpa belas kasih. Rinduku yang tak tentu, Rinduku yang salah akan waktu, Dan rindu yang selalu menyiksa kalbu.
sila menerka lihat yang kasat mata dan engkau bebas mengata jangan gusar delusi tak perlu dihajar alamiah nan sangatlah wajar tak perlu mengerang meski kerap bertolak belakang berbicara yang tak ada membuatmu benci logika sila menerka yang ada jangan mengada-ada
Komentar
Posting Komentar